Kamis, 02 Juli 2015

Review Novel If I Stay Karya Gayle Forman

Cover baru If I Stay

Cover lama If I Stay
Penulis: Gayle Forman
Tebal: 200 halaman 
Terbit: 2009, versi English
       2011, versi terjemahan, kaver lama (Cetakan pertama)
           2015, versi terjemahan, kaver baru (Cetakan kedelapan)
Penerbit: Dutton Books for Young Readers / PT Gramedia Pustaka Utama
Alih Bahasa: Poppy D. Chusfani
Harga: Rp. 43.000
Label: If I Stay #1

Mia memiliki segalanya: keluarga yang menyayanginya, kekasih yang memujanya, dan masa depan cerah penuh musik serta pilihan. Kemudian, dalam sekejap, semua itu terengut darinya. 

Terjebak antara hidup dan mati, antara masa lalu yang indah dan masa depan yang tidak pasti, Mia menghadapi satu hari penting ketika ia merenungkan satu-satunya keputusan yang masih dimilikinya - keputusan terpenting yang akan pernah dibuatnya. 

Amat sangat menyentuh. 
-Publishers Weekly, starred review

Brutal sekaligus indah. 
-School Library Journal, starred review 

                                              ***
Mia memiliki keluarga yang perhatian dan bahagia serta seorang pacar dengan band punk rock-nya yang sedang naik daun. Hidup Mia seperti yang diimpikan gadis seusianya. Selain memiliki hal tersebut, dia juga hebat dalam bermain cello. Sampai suatu hari semuanya berubah.

Keluarga Mia yang sedang dalam perjalanan mengunjungi teman lama ayah Mia, mereka mengalami kecelakaan. Sekarang, Mia yang bangun dan menyadari bahwa dia sekarang mengalami out of body experience harus memilih untuk bersama keluarganya dan meninggalkan semuanya atau menggengam present time bersama sanak keluarganya yang tersisa dan pacarnya. Apa yang akan kau lakukan jika kau harus memilih?


                                              ***


Apa yang akan kau lakukan jika kau harus memilih?
Itu adalah pertanyaan yang selalu muncul saat kita melihat segalanya dalam Mia POV. Kita sebagai pembaca selalu dibawa ke masa-masa dimana Mia menjelaskan tentang masa lalunya, tepatnya masa yang dihabiskan oleh dirinya dan juga pacarnya, Adam. Pertemuan mereka diawali dengan kesukaan mereka terhadap musik. Mia yang menyukai musik klasik dan Adam yang menyukai musik punk rock.

Mia yang memiliki orang tua yang menyayanginya dan adiknya, Teddy. Teddy adalah anak yang sangat menggemaskan dan lucu segambaran dengan anak seusianya.

Aku berkonsentrasi pada not-notnya, membayangkan diriku memainkannya, bersyukur atas kesempatan berlatih di sini, gembira karena berada di dalam mobil yang hangat bersama keluargaku. (Hal. 16)

Di sini Mia menyatakan bahwa dia senang berada dalam perjalanan ke rumah Henry dan Willow, teman lama ayah Mia. Dia juga mengungkapkan bahwa dia sangat menyukai bermain cello. Sampai suatu kejadian membuat kehidupan Mia berubah.

Apakah aku sudah mati? (Hal. 20)

Mia menanyakan hal tersebut pada dirinya. Dia memiliki fisik seperti dirinya sendiri, namun dia tidak dapat merasakan apapun maupun dirasakan kehadirannya oleh orang lain. Seakan-akan Mia adalah seorang roh halus, namun sebenarnya bukan seperti itu.

Tapi tetap saja, perhatiannya padaku membuatku bingung. (Hal. 32)

Mia menanyakan dirinya saat mengingat pertemuan dan kencan pertamanya dengan Adam. Membuat Mia kembali mengingat masa-masa bahagianya bersama Adam.

Setelah kita dibawa dengan masa kenangan Mia yang mengharukan, kita dibawa kembali ke realita mengerikan yang sangat berbeda dengan kehidupan Mia yang seperti fairytale.

Jika kita berada dalam posisi Mia, apakah kita dapat memilih? Saya sebagai pembaca ditarik masuk kedalam dunia ini, mengerti kondisi Mia yang mengenaskan sekaligus melihat dunia masa lalunya yang sangatlah berbeda.

                                                                    ***



Saya membaca buku ini berkat teman saya yang merekomendasikannya, oleh sebab itu saya membeli buku ini. Sebenarnya, saya juga ingin membeli buku kelanjutannya, sayangnya uang yang saya bawa tidak cukup karena saya membeli 7 Hari Menembus Waktu.

Saya mendapatkan banyak kata-kata menarik. Walaupun bukan qoutes atau yang sederajat dengan hal tersebut, tetapi dari kata-kata tersebut-lah kita dapat melihat kebahagiaan yang Mia rasakan. Semua emosi yang dia rasakan saya dapatkan dari kata-kata tersebut.

Salah satu qoutes favorit saya dari buku ini adalah "Seharusnya aku tidak peduli. Seharusnya aku tidak berusaha sekeras ini. Aku sadar sekarang bahwa meninggal itu mudah sekali. Hiduplah yang sulit." (Hal. 146)

Selama di rumah sakit, Mia selalu dibawa untuk memilih. Memilih untuk pergi bersama keluarganya atau tinggal bersama kakek dan nenek serta pacarnya dan jangan lupa juga sahabat karibnya.

Karena ini merupakan buku terjemahan, saya merasa harus membaca dua kali untuk beberapa kalimat yang kurang sreg pada otak saya. Tetapi, ternyata buku ini benar-benar bagus. Rekomendasi teman saya tidak salah ternyata.

Kadang-kadang, saya merasa bahwa Mia dan Adam mencintai satu sama lain karena ikatan musik di antara mereka, namun saya tahu bahwa saya salah. Mereka mencintai satu sama lain. Musik yang membuat mereka bertemu. Musik juga yang membuat mereka berpisah. Penasaran kenapa? Oleh karena itu, belilah bukunya.

Saya juga menyarankan untuk membeli yang cover baru, langsung dibeli yang Where She Went, bIar tangannya bisa disatuin gitu. Kan so sweet. Salah fokus, malah promosi. Hanya saja, saya merasa awkward saat s*x scene mereka karena aneh banget (dan itu pun kalau bisa dimasukkan ke dalam scene tersebut) karena tidak masuk akal dan membuat saya merasa .. aneh.

Karena ini merupakan terjemahan, saya sebenarnya tidak mengharapkan adanya typo namun mau bagaimana lagi, manusia bukanlah ciptaan Tuhan yang sempurna, bukan? Oleh sebab itu saya memaklumkan beberapa typo yang terdapat dalam buku ini.

Secara overall, saya memberikan buku ini 4. 5 bintang. Selamat, buku ini merupakan buku pertama yang mendapatkan rating pake koma-komaan.

Karena buku ini sudah difilmkan dengan judul film yang sama, saya menyarankan anda untuk MEMBACA TERLEBIH DAHULU BARU MENONTON sesudah itu kalian dapat merasakan sedikit perbedaan antara film dan novelnya.

Selamat membaca.

Jika ada yang ingin melihat trailer dari film If I Stay, bisa dilihat disini.


Jangan takut untuk yang belum sempat nonton, karena memang film ini belum keluar di Indonesia (KALAU GAK SALAH). Saya sih udah nonton, dan kalian tahu kan darimana? Hihihihi...


2 komentar:

  1. Baca novel versi englishnya? Bahasanya mudah gak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. kebetulan aku bacanya versi terjemahan, jadi agak kurang sreg. Aku sih lebih saranin baca buku di bahasa aslinya, kalau terjemahan rasanya aneh, apalagi kalau buku romansa, jadi rasanya agak kurang dapet gitu hehe..

      Hapus