Selasa, 06 Oktober 2015

Review Novel Turning Seventeen Karya Artie Ahmad

Penulis: Artie Ahmad
Tebal: 216 halaman
Cetakan: 20 Mei 2015
Penerbit: Elex Media Komputindo
Harga: Rp. 38.000
Label: Teen Spirit
                                                                       ***
Namaku Keana. Aku baru saja berusia tujuh belas tahun. Dan ini catatan panjang tentang kehidupan remajaku yang mungkin perlu kalian tahu. Aku memiliki empat sahabat. Kami begitu dekat, begitu saling mengenal, namun ternyata memiliki rahasia yang tidak kami ketahui satu sama lain. Rahasia yang membuat aku sadar, usia tujuh belas itu tak hanya berhiaskan tawa dan canda.

"Dunia remaja tidak melulu berisi rasa suka, tetapi terkadang penuh rahasia berbalut luka. Turning Seventeen sudah membuka mata bahwa tidak pernah mudah untuk menjadi seorang remaja."
-Iwok Abqary, penulis novel anak dan remaja

"Kisah persahabatan remaja tak melulu manis bak gulali. Ada cerita tragis, bahkan terasa pilu. Tapi menguatkan ikatan persahabatan di antara mereka. Great job, Artie."
-Dewi 'Dedew' Rieka, penulis series Anak Kos Dodol
                                                                    ***
Keana memiliki empat sahabat, mereka adalah Dirza, yang memiliki mimpi untuk menjadi seorang penulis, Sekar, murid yang pintar di dalam kelompok dan sekolah mereka, Prila yang sangat ambisius, dan merupakan tempat Keanu sering curhat, dan terakhir Zizi yang kadang-kadang suka bertengkar dengan Keana.

Mereka bersahabat, namun saling memendam rahasia satu sama lin, tidak membiarkan seorang pun tahu, kecuali dirinya sendiri dan Tuhan. Apakah mereka bisa tetap berteman walau masih menyimpan rahasia satu sama lain?
                                                                  ***

Buku ini adalah salah satu buku yang saya dapatkan dari EMK dan Kak Tia, alasannya sama seperti buku Tertinggal Waktu. Lewat review buku Love Fate, saya mendapatkan buku ini.

Saya menyukai cerita yang mengandung unsur persahabatan, karena hidup remaja tidak hanya dipenuhi oleh cinta. Masih ada lebih banyak aspek yang bisa kita lihat dari masa-masa remaja diri kita. Penulisnya mengajarkan kita bahwa sedekat apa pun kita dengan seseorang, pasti akan ada suatu hal yang disembuyikan, sesuatu yang dipenjam untuk diri sendiri.

Hanya saja, saya bukanlah orang yang bisa mengingat banyak nama-nama tokoh dalam sebuah buku, maka dari itu saya merasa bahwa saya tidak terlalu mengingat nama-nama dalam buku ini. Karena buku ini menceritakan tentang pertemanan, tentu saja hal-hal yang saya suka (maka saya stabiloin) dalam buku ini, yang merupakan untaian kata-katanya, menceritakan tentang persahabatan.

Rasa persahabatan dapat terlihat saat kejadian Prila yang menimpa dengan Sekar dalam waktu yang hampir bersamaan. Jika boleh dikaitkan, cerita Sekar mungkin benar-benar terjadi di Indonesia, walaupun saya tahu tidak semua remaja Indonesia seperti itu. Maka dari kejadian Sekar tersebut, saya tidak merekomendasikan buku ini ke perpustakaan sekolah saya. Saya juga merasa bahwa kejadian Prila dan Sekar hanya untuk menghilangkan mereka dari jejak-jejak dalam buku ini.

Hal yang membuat saya bingung mengapa judulnya Turning Seventeen lalu ada dua buah tanaman (saya tidak tahu nama apa yang paling bagus untuk mendeskripsikan objek tersebut), maksudnya itu apa ya? Saya tidak mengerti, apa kaitannya dengan tanaman tersebut. Lalu, detail-detail dalam buku ini kurang lengkap, mungkin memang karena terlalu banyak karakter sehingga tidak cukup untuk meng-ekspos semua karakternya.

Dalam buku ini juga banyak typo dan ada juga salah penaruhan nama karakter, mungkin karena penulisnya sudah terlalu capai. Saya rasa ada pro dan kontra yang terdapat dalam buku ini. Intinya buku ini pastinya buku yang menceritakan tentang persahabatan. Lebih cocok untuk remaja yang sudah menduduki SMA.

3 stars out of 5 for this book

Tidak ada komentar:

Posting Komentar