Minggu, 21 Februari 2016

Review Novel Second Heart Karya Luna Torashyngu

Penulis: Luna Torashyngu
Tebal: 352 halaman
Terbit: 14 Januari 2016
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Harga: Rp. 68.000
Label: Teenlit
                                                                       ***
Tiara mencoba melupakan peristiwa penculikan dirinya enam bulan yang lalu. Dia telah kembali bersekolah, tentu saja dengan pengawalan Andra alias Aster.

Tetapi, para penculik Tiara yang sebagian masih buron belum berhenti. Dengan bantuan Neo Indonesian State (NIS) - organisasi separatis yang bertujuan menggulingkan pemerintah yang sah dan membentuk pemerintahan baru yang sesuai dengan ideologinya - mereka menyusun rencana baru.

Di sisi lain, perubahan pimpinan dan restrukturisasi di Jatayu ternyata membuat Andra merasa tidak nyaman. Ferdi yang selalu mendampingnya dalam tugas diberi tugas lain yang membuatya harus berada di luar Bandung. Cempaka, pengganti Ferdi, ternyata tidak selalu punya pikiran yang sama dengan Andra. Belum lagi sikap Santi yang tiba-tiba memusuhi Andra karena menganggap Andra merebut anak baru yang sedang ditaksirnya, yang bernama Rafa.

Saat Andra sakit dan tidak bisa mengawal Tiara, NIS justru menyerbu masuk ke SMAN 132 dan menyandera seluruh murid, guru, serta karyawan sekolah. Tidak hanya menyandera Tiara, organisasi itu ternyata mempunyai tujuan yang lebih besar.

Mampukah Andra melindungi Tiara?
                                                                        ***
Setelah kejadian penculikan Tiara 6 bulan yang lalu, keadaan Indoensian pun aman dan tenang saja. Namun, banyak kejadian kecil yang terjadi di bagian kampung Bandung yang melibatkan penangkapan anggota NIS (Neo Indonesian State), sebuah organisasi yang berniat untuk menggulingkan Pemerintah dan mencoba untuk mengubah ideologi bangsa Indonesia.

Pada suatu hari, ada anak baru bernama Rafa yang ditempatkan di kelas Tiara dan Andra. Rafa adalah sosok misterius yang selalu membaca buku Dark Story, suatu buku yang telah dilarang untuk diedarkan di asaran oleh pemerintah. Hal ini tentu membuat Andra curiga, setelah mendapat bocoran dari seseorang bahwa sudah ada seseorang yang menyusup ke dalam sekolah SMAN 132.

Andra semakin curiga dengan Rafa yang mendekati dia dan bahkan berniat untuk memberitahukan siapa penulis dari buku Dark Story. Belum cukup dengan semua itu, saat Andra sedang sakit, tiba-tiba saja organisasi NIS membajak sekolah SMAN 132, menyebabkan Tiara yang berada di dalam sekolah itu tidak bisa pergi ke mana-mana, lantaran banyak orang yang berpikir bahwa tujuan utama mereka datang ke SMAN 132 adalah untuk menyandera Tiara.

Lalu, bagaimana dengan kelanjutan kisah mereka? Apakah Tiara akan selamat? Bagaimana caranya sedangkan Andra sakit? Apakah Rafa memiliki kaitan dengan kejadian pembajakan tersebut? Lalu, apa peran Cempaka dalam cerita ini? Dan, apakah benar bahwa Tiara merupakan penyebab NIS membajak SMAN 132 dan bukan alasan lain? Simak kelanjutannya di Second Heart!

                                                                          ***
Saya membaca buku ini, berawal dari seseorang yang menanyakan apakah saya sudah membaca buku kelanjutannya atau belum, dan saya hanya bisa menjawab bahwa saya belum membacanya. Berbekal dengan rasa yang penasaran akan buku keduanya, akhirnya saya pinjamlah buku kedua dari seri ini. Untungnya saja, sekolah saya sudah mempunyai buku keduanya. Kalau tidak, mungkin akan lebih lama saya membaca ceritanya..

Sejujurnya, saya sudah lupa dengan cerita yang pertama. Namun, saya masih ingat secara garis besar, walau tidak mengingat nama tokoh-tokohnya lantaran banyak sekali, namun saya masih mengingat karakter yang menurut saya dominan dalam satu buku ini. Misalnya saja Tiara, Andra (Aster), Santi, Nita, Ferdi, Hana, Kolonel Lily, dll. Saya mengakui bahwa saya tidak pandai menghafal banyak nama dalam suatu buku, seperti First Girl misalnya.

Secara keseluruhan, saya semakin tercengang-cengang dengan kemampuan Kak Luna untuk membayangkan sesuatu yang sangat berbeda dengan kondisi Indonesia saat ini. Daya imaginasinya yang tinggi dan mampu membuat kita masuk ke dalam dunia tersebut. Belum lagi dengan adanya sisipan-sisipan organisasi yang memang tidak dibuat-buat secara fiksi (kecuali Jatayu) dan mampu menjelaskan peran masing-masing organisasi dengan baik.

Saya juga patut memberi acungan jempol kepada Kak Luna karena dari buku keduanya, kelihatan sekali bahwa sang penulis memiliki pengetahuan luas akan politik, fisika, dan juga senjata dan "transportasi" militer yang terbaru. Saya hanya bisa menganga sambil mencoba berpikir untuk mencerna perkataan yang ada di dalam buku ini. Misalnya, tentang teori fisika yang bisa membuat saya menangis saking bahasanya yang harus dibaca berkali-kali untuk dimengerti, atau memang sayanya yang terlalu bodoh.

Di sini, sang penulis juga mencoba untuk menunjukkan sisi Bandung lagi, seperti yang dilakukan pada buku pertamanya, walau di buku ini lebih banyak menunjukkan ke SMAN 132 sih, soalnya memang kali ini latarnya di tempat tersebut. Di buku kali ini, juga menunjukkan sedikit romansa antara ... dan ... Sengaja saya sensor supaya pembaca resensi ini menjadi semakin penasaran. Adegan action di dalam buku ini juga semakin oke.

Sebenarnya saya rasa, walau Kak Luna sudah berjaya di dunia TeenLit, buku Second Heart seharusnya masuk ke dalam dunia fiksi yang lebih tinggi dari TeenLit, misalnya Young Adult. Kenapa? Karena saya sendiri, sebagai seorang remaja, berat membaca sesuatu di mana hal tentang politik kental sekali di dalamnya. Tidak jarang saya mengerutkan kening sambil mencoba mengerti apa yang dimaksudkan dalam buku ini. Saya tidak tahu apakah buku lainnya Kak Luna bertema politik seperti buku Second Heart atau tidak, karena saya baru membaca First Girl dan Second Heart.

Secara keseluruhan, saya suka dengan ceritanya dan saya tidak sabar menunggu buku ketiganya, "First Party".

3.6 stars out of 5 for this book.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar